LOVESICK (Ep.08)

lovesick

LOVESICK

starring: Lee Taemin | Son Naeun | Kim Seokjin | Lee Byunghun | Chou Tzuyu

genre: slice of life | teenager | romance | sad | au

lenght: chaptered

storyline: Gea Arifin

#8ㅡDon’t Touch My Girl (1)

**

…. there’s one thing that is not okay,

there’s one thing I cannot tolerate

it’s you, you know it, don’t touch my girl….

**

Lee Taemin. Pemuda itu menyimpan buku not balok ke dalam tas dan menarik zipper untuk menutup ranselnya. Ia hanya perlu menyimpul tali sepatunya dan ia telah siap untuk berangkat ke sekolah pagi ini.

Flip.

Tali sneakernya telah tersimpul. Kepala Taemin terangkat ketika mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka.

Joe ada disana, di ambang pintu. Lengkap dengan senyum lebar dan tangan terangkat untuk menyapa roomatenya. Taemin mendengus menyambut kedatangan Joe. Ia menepuk celana seragamnya, berniat untuk segera pergi tanpa membalas sapaan Joe.

“Kau tidak menyambutku, Lee Taemin?” seru Joe ketika Taemin berjalan melewati pundak Joe tanpa mengeluarkan suara. “…ya, kau ini seperti perempuan yang ditinggalkan kekasihnya saja!”

Joe masih melihat pundak Taemin, bahkan setelah pemuda itu menghilang dari balik pintu. Joe mengangkat bahunya. Belum lama Taemin keluar dari kamar, Joe melihat pemuda itu kembali. Menatap sinis pada Joe dan mengacungkan jari tengahnya, setelah itu Taemin kembali menghilang. Joe hanya tertawa melihat kelakuan Taemin. Baginya, itu adalah sapaan ‘selamat datang kembali.’ dari Taemin.

**

“Kita mulai tes hari ini.” Seru Choi ssaem yang langsung mendapat perhatian ketika wanita berumur tigapuluhan itu masuk kedalam kelas. “Jika tidak ada yang ingin bertanya, peraturan tes masih sama seperti semester lalu.” Kelas musik klasik pagi ini nampak hening. Semua siswa menghindari tatapan Choi Sooyoung –si guru musik, takut-takut jika nama salah satu dari mereka akan dipanggil untuk menjadi penampil pertama.

Penilaian tes hari ini adalah sebagai penentu untuk melanjutkan ke semester selanjutnya, mengingat ECUA tidak menggunakan sistem ujian kenaikan kelas. Bagi siapa yang dapat mengumpulkan seribu poin dalam satu semester, maka ia berhak melanjutkan ke tingkat (semester) berikutnya.

“Aku akan persilahkan bagi siapa saja yang ingin menjadi penampil pertama..”

Son Naeun. Gadis itu mengangkat tangannya. “Saya, ssaem.”

Choi Sooyoung mengangguk dan mempersilahkan Naeun. Wanita itu mengembangkan senyum, nampak bangga pada Ace dari Athena tersebut.

Naeun meregangkan tangan untuk memulai pemanasan sebelum menyentuh tuts dari grand piano yang ada di depannya. Ia begitu percaya diri, satu tarikan nafas saja sudah membuatnya merasa tenang.

Instrumen lagu milik Rachmaninoff yang berjudul Love’s Sorrow terdengar ke seluruh ruangan kelas. Semua siswa yang tadinya sibuk dengan buku musik mereka, kini memerhatikan permainan piano dari Naeun.

Jika teman-temannya menikmati permainannya, beda hal dengan Naeun. Lagu yang dimainkannya bagaikan sebuah film yang terputar dalam ingatannya. Kedua matanya memanas.

Kenangan pahit yang tidak ingin dilupakannya itu menyeruak ke permukaan. Naeun membiarkannya, ia sudah menyiapkan hatinya ketika ia ingin memainkan instrumen tersebut.

Semua orang terpesona dan bertepuk tangan ketika Naeun menekan tuts terakhirnya. Seorang Son Naeun memang pantas menyandang gelar Ace dari Athena.

“Bagus, Nona Son.” Puji Choi Sooyoung, wanita itu pun ikut bertepuk tangan.

Naeun membungkuk dan kembali ke tempat duduknya. Jung Soojung, yang menjadi teman satu bangkunya menepuk pundak Naeun. “Thats cool!

“Jadi siapa selan –…”

“Saya, ssaem!

*

“Lihat! Sang Ace dari Apollo akan menghipnotis kita semua.” Bisik Soojung pada Naeun sambil menyiku lengan gadis bermarga Son tersebut.

Naeun sebenarnya ingin peduli. Namun gadis itu sudah lelah dengan sikap Taemin, yang selalu tak menghiraukannya. Lagipula menurutnya bagaimana pun ia bersikap pada Taemin, pemuda itu masih akan tetap sama.

Terbatas, dan tak pernah berubah.

Sebuah instrumen lagu dengan judul Winter Wind milik Chopin mengalun dengan indah di ruangan kelas kedap suara tersebut. Tak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara. Semuanya terdiam, seolah terhipnotis oleh permainan piano dari seorang pemuda bernama Lee Taemin.

Hatinya kebas. Son Naeun mengangkat kepalanya, memerhatikan pemuda yang kembali menarik kenangan pahit dalam ingatannya.

**

Seorang anak gadis berbalut dress selutut berwarna salem, dengan pita senada menghias rambut sebahunya yang tergerai indah. Kepalanya menunduk, menatap flat shoesnya, suatu hal yang menjadi kebiasaannya ketika sedang merasa gugup.

“Kau gugup, Son?” Seorang anak laki-laki menepuk pundaknya. Ia melirik pada anak laki-laki tersebut dan mengangguk. “Tidak apa-apa, Son. Kita ke atas panggung bersama, kau bisa mengandalkanku.” serunya. “.. Jadi, tidak usah gugup, ya?”

“Tapi… ini adalah lomba pertamaku, sebagai pendamping.” Wajahnya nampak frustasi, jelas sekali jika gadis itu sedang kehilangan percaya dirinya.

Anak laki-laki tersebut mengeluarkan sesuatu dari saku celana, “Berikan tanganmu.” pintanya, dan kemudian anak gadis itu mengulurkan tangan kanannya.

Sebuah kalung yang terbuat dari emas putih, dengan bandul Thinker Bell kini berada dalam genggamannya. Kening anak gadis itu mengerut.

“Karena kau sudah menjadi pendampingku di lomba ini, aku sudah menyiapkan kado untukmu. Dipakai, ya? Supaya kekuatan sihir Thinker Bell bisa membuatmu lebih percaya diri.” ujarnya. Anak gadis itu memakai kalungnya, menyentuh bandul Thinker Bell dan mulai tersenyum.

“Kau pemain violin paling cantik yang pernah aku lihat, Son Naeun.”

**

Naeun tak pernah lupa. Kenangan saat ia menjadi pendamping Taemin di setiap lomba piano yang pemuda itu ikuti, adalah kenangan pahit yang tak ingin Naeun lupakan. Bahkan sampai sekarang. Apa yang dilihatnya saat ini ketika pemuda itu memainkan instrumen milik Chopin sendirian, benar-benar membuatnya sedih. Gadis itu menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan.

Ssaem, saya izin ke toilet.”

Beruntung saja karena Choi Sooyoung berdiri tak jauh dari bangkunya. Setelah meminta izin keluar kelas, Naeun langsung meninggalkan ruangan tersebut.

Ia tak pernah tau, bahwa pemuda yang kini sudah mengakhiri permainan pianonya itu juga meneteskan sesuatu dari kedua pelupuk matanya.

**
Bel tanda istirahat pun berbunyi. Setiap siswa berhamburan keluar dari ruang kelas kelompok Ares dan Artemis. Ketika teman-temannya terburu-buru untuk keluar kelas, lain halnya dengan Seokjin. Pemuda itu masih tetap duduk di bangkunya.

Tempat duduknya berada di baris ketiga, di samping jendela. Hal yang paling Seokjin sukai, karena ia bebas memandang langit dari balik jendela. Kali ini pun sama. Pemuda itu ingin menikmati barisan awan terlebih dulu sebelum ia keluar kelas. Toh Naeun belum mengajaknya ke kantin. Seokjin memang akan menunggu Naeun keluar kelas dan pergi bersama ke kantin untuk makan siang. Ia akan duduk seperti ini dulu.

Cukup lama, akhirnya Seokjin menyadari sesuatu. Naeun tak kunjung mengabarinya.

Dimana dia?

Seokjin mengambil ponselnya di dalam tas. Tak ada pesan dari gadis yang ditunggunya. Ia berniat untuk menghubungi Naeun lebih dulu.

Jin.K

Neo, eoddiya? (Kau, ada dimana?)

Seokjin menunggu pesannya itu untuk dibaca.

Naeun.S

Green Place.

Butuh beberapa menit untuk akhirnya Naeun membalas pesannya. Maka setelah ia membaca balasan gadis itu, Seokjin segera meninggalkan kelasnya dan langsung berlari menuju halaman belakang ECUA.

Hal pertama yang dilihatnya setelah sampai di halaman sekolah adalah, Son Naeun yang sedang duduk di salah satu bangku panjang disana. Bahu gadis itu naik-turun. Seokjin tak salah liat, gadis itu sedang menangis. Pemuda itu lantas berlari untuk menghampirinya.

“Naeun..” panggilnya, ia duduk di sebelah gadis itu dengan sedikit memiringkan posisi tubuhnya, menghadap Naeun. “Wae ire? (Apa yang terjadi?)”

Naeun masih terisak, tak mempedulikan Seokjin yang sedang menatap nanar padanya. “Naeun, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis seperti ini?” Gadis itu jelas tak menjawab pertanyaan pemuda itu.

Seokjin mendesah pelan, tangannya terulur untuk mendekap bahu Naeun. “Uljima, uhm…” Surai Naeun tak lepas dari sentuhan tangan Seokjin, pemuda itu hanya ingin menenangkan Naeun. Ia tak suka jika gadis itu menangis seperti ini.

Karena ia, mencintainya.

**

Langkahnya terhenti, tak jauh dari Green Place. Kedua mata dengan tatapan tajam itu mengerjap beberapa kali, mendapati dua pasang siswa yang sedang duduk di bawah pohon Oak. Ia mendesah kasar, kedua tangannya mengepal di samping celana seragamnya.

Situasi yang sama.
Dengan gadis yang sama.
Namun dengan pemuda yang berbeda.

Ruas jari yang memutih, kepalan tangan yang semakin erat. Ia paksakan matanya untuk merapat sejenak dan menarik nafas dalam. Deru nafas yang memburu menemani kedua tungkainya untuk kembali melangkah.

Ia tak berjalan menuju perpustakaan yang notabene adalah tujuan utamanya. Kali ini, ia melangkah ke tengah halaman belakang sekolah tersebut dengan langkah besar-besar.

“Son Naeun.” Panggilnya. Kedua muda mudi itu menengadah, ia dapat melihat mata sembab gadis yang dipanggilnya.

“Taemin?”

Ia, Lee Taemin. Berdiri di depan Kim Seokjin dan Son Naeun. Seokjin melepas rengkuhannya dari pundak Naeun. Gadis itu mengusap wajahnya yang basah, akibat menangis terlalu lama.

“Kau yang membuatnya seperti ini, kan?” tuding Seokjin pada Taemin.

“Aku tidak melakukan apapun.” Taemin membela dirinya. “Aku ingin Naeun ikut denganku.” Ia mengulurkan tangannya, namun Naeun masih bergeming. Kepala gadis itu malah tertunduk.

Menolak? Mungkin saja.

“Son Naeun.” Panggilnya lagi. Namun Naeun tak memberi respon apapun.

“Dia tidak mau.” Ujar Seokjin. “Kau bisa pergi sekarang, Lee Taemin.”

Taemin menyadari sesuatu, gadis itu memang menangis karenanya. Pemuda itu tak tahu harus berbuat apa. Instingnya bergerak lebih cepat.  Diraihnya pergelangan tangan Naeun yang sedang mencengkram bangku yang didudukinya.

Badan Naeun tertarik oleh Taemin, namun tangan Seokjin bergerak lebih cepat untuk menahan Naeun. “Dia tidak mau ikut denganmu, jangan memaksanya!”

“Lepaskan!”

“Tidak! Kau yang membuatnya menangis dan kau akan membawanya seperti ini? Kau bercanda, Taemin!”

Kedua pemuda itu tak melepaskan tangan mereka dari pergelangan Naeun.

“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan?!” Gadis itu tidak bisa menahan kesalnya lagi, ia melepaskan kedua tangan pemuda itu dengan kasar. Naeun butuh waktu untuk menyendiri, dan kedua pemuda itu malah mengganggunya.

Son Naeun pergi meninggalkan kedua pemuda yang masih saling melempar tatapan tajam satu sama lain.

“Jika aku melihat Naeun menangis karenamu lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memukulmu, Lee Taemin.”

Taemin mendesis, pemuda itu melirik Seokjin dengan sinis. “Kau pikir kau siapa?” Taemin maju satu langkah ke hadapan Seokjin dengan dagu yang terangkat. “Aku masih bisa memberikan toleransi padamu karena kau masuk kedalam daftar anggota keluargaku, Kim Seokjin. Ahh, maksudku.. Lee Seokjin? Tapi aku tidak bisa mentolerir.. jika kau mendekati Naeun.”

Bukan Kim Seokjin jika ia gentar dengan ucapan Taemin. Kali ini pemuda itu menyunggingkan sebuah smirk di bibirnya. “Cih. Kau begitu munafik, Taemin.” ujarnya, “.. bukankah kau menolak untuk dijodohkan dengan Naeun? Jadi apa hakmu melarangku untuk mendekati Son Naeun?”

Taemin tak mau kalah, pemuda itu kembali membuka suara.

“Menghindari perjodohan bodoh itu bukan berarti aku menolak, bukan?”

Seokjin mengepalkan tangan kanannya.

“Jadi, jangan berani untuk mendekatinya.” Pemuda itu berlalu setelah dengan sengaja menubruk pundak Seokjin.

*

*

To be continue.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Fanfiction, SHINee, UPDATE

(ɔˇ³ˇ)ɔ Your Comment Like Oxygen♡

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s