LOVESICK (Ep.09)

lovesick2

LOVESICK

starring: Lee Taemin | Son Naeun | Kim Seokjin | Lee Byunghun | Chou Tzuyu

genre: slice of life | teenager | romance | sad | au

lenght: chaptered

storyline: Gea Arifin

#8ㅡClose To You (1)

**

Cheotsarang Coffee & Bakery sepertinya sudah menjadi tempat favorit Chou Tzuyu, sudah beberapa hari berturut-turut ia menghabiskan waktu setelah pulang sekolah di kedai kopi yang juga menjual beberapa macam cake tersebut.

Tzuyu memang memiliki dunianya sendiri. Ia lebih senang menyendiri, ditemani novel roman, secangkir Latte hangat dan sepotong Tiramisu. Tambahan posisi duduk yang berada di dekat jendela, itu sudah membuat Tzuyu merasa nyaman untuk menikmati sore harinya. Beruntung kedai kopi tersebut tak terlalu jauh dari gerbang utama ECUA.

‘Anatasha sedang jatuh cinta, setiap harinya ia pergi ke taman yang tak jauh dari apartemennya. Hanya untuk menemui Hans, si pemuda bermata biru. Pertemuan manisnya dengan pemuda asal Joplin itu adalah pengalaman mengesankan baginya, mengingat mereka berdua berasal dari negara yang sama dan bertemu di perantauan yang sama pula..’

Tzuyu menutup novelnya. Kepalanya sibuk berimajinasi mengenai penggalan kalimat dalam novel yang dibacanya. Tanpa ia sadari bibirnya melukis segurat senyum tipis.

**

Kling.

“Eossoeoseyo~ (Selamat datang~)”

“Aku pesan Ristretto dan Affogato..”

Ne, tunggu sebentar.”

Oh aku juga ingin waffle, Joe!

“Kau bisa pesan apapun, Honey.”

Samar-samar ia mendengar nama seseorang yang beberapa hari ini tak dilihatnya. Untuk itu Tzuyu berpaling sejenak dari novel romannya. Matanya mencari sosok tersebut.

‘Joe’ gumamnya.

Ia melihatnya. Pemuda itu sedang berdiri di depan meja kasir. Bersama seorang gadis. Kening Tzuyu mengerut. Ia bukan seorang stalker, tapi Tzuyu tidak bisa membohongi dirinya sendiri karena saat ini ia sedang memerhatikan kedua orang itu -Joe, dan gadis yang bersamanya.

Sesuatu mengusik batin Tzuyu. Entah kenapa matanya tak bisa lepas dari pemandangan dua orang yang sedang berseda gurau dan tertawa bersama itu. Tak jarang ia melihat Joe mengusap puncak kepala si gadis yang duduk disampingnya.

“Chou Tzuyu!”

Gadis itu berjengit ketika seseorang tiba-tiba saja muncul di depannya. Beberapa kali ia mengerjap ketika menyadari siapa yang mengejutkannya itu.

“Jeon -Jungkook?”

**

Waktu yang ditunjukkan jam tangan digitalnya menunjukkan pukul enam lewat tigapuluh menit.

Joe menyesap tetes terakhir dari Ristretto hangatnnya yang sudah mendingin. Waffle berukuran besar yang dipesan oleh Julie pun sudah tandas dan hanya menyisakan sedikit lelehan es krim vanila.

“Jika kau tidak ingin ikut denganku, maka jangan mengunjungiku, Julie.” Seru Joe memecahkan keheningan yang sempat menyelimuti mereka beberapa menit. Nada bicara Joe berubah menjadi sedikit serius setelah mereka menghabiskan waktu dengan bercanda.

Julie menyikut lengan Kakaknya. “Kau ini! Aku hanya akan berpamitan denganmu, kau sendiri yang memesan tiket untukku dan Halmeoni untuk berangkat lusa, bukan? Kami tidak ada waktu lagi untuk berpamitan denganmu.”

Ahh kau benar.” Joe memasukkan potongan terakhir waffle cinnamon kedalam mulutnya. “Bilang pada Halmae, jika aku akan mengantar kalian ke bandara.”

Julie menggeleng. “Tidak perlu. Halmae sendiri yang memintaku mengatakannya padamu..” gadis itu mengusap mulutnya dengan tisu dan kembali berkata, “..jika kau tidak perlu mengantar kami. Kau bisa menangis seperti bayi.”

Joe terbelalak dan mendorong kepala Julie dengan telunjuknya. “YA! Aku tidak pernah menangis seperti bayi.”

“Kau tidak ingat saat dulu kau di bawa oleh Halmae ke Amerika?”

Julie tertawa terbahak-bahak ketika Joe menekuk wajahnya. “Ohh Joe, kau imut sekali~”

**

“Be carefull on the way (Berhati-hatilah di perjalanan), Julie. Jaga Halmae.” pemuda itu mengambil jeda, “.. jangan lupa untuk mengabariku setelah kalian sampai disana, arraseo?

Julie menepuk pundak Joe. “Tenang saja, aku pasti mengabarimu.” Gadis itu masuk kedalam taxi.

Sebelum pergi, Julie membuka kaca taxi tersebut dan kembali berkata. “Aku pasti akan menelponmu setiap hari, mengirimu pesan setiap jam, dan menerormu dengan video call di tengah malam.” Ia sempat terkekeh, “.. kau harus bersiap untuk menerima itu, Joe. Atau aku aku akan langsung kembali kemari dan membawamu bersamaku!” Pemuda itu tertawa ringan mendengar ucapan Julie.

Arraseo, palli kka~ (Aku mengerti, cepatlah pergi~)

Joe melambaikan tangan ketika taxi sudah membawa Julie pergi. Pemuda itu masih berdiri di depan kedai kopi. Jendela kedai yang lumayan besar itu menampilkan bayangannya. Pemuda itu menarik beberapa senti sudut bibirnya. Melukis sebuah senyum getir. Ia melihat sosoknya dengan begitu jelas.

‘Maafkan aku, Julie.’

“Oppa, mian. Pasti kau sudah menunggu lama, euhm?” Joe tergelak, tiba-tiba saja ada tangan yang menggenggamnya. Ia menoleh, mendapati seorang gadis sedang tersenyum lebar padanya. Gadis itu semakin mendekatkan diri dan menyandarkan kepala pada lengannya. Jelas Joe tidak mengerti apa yang tiba-tiba gadis ini bicarakan.

“Bantu aku sebentar, jebal~”

Joe mendengar dengan jelas apa yang dibisikan gadis itu. Tapi dia tidak mengerti, apa yang harus ia lakukan untuk membantu gadis yang sekarang mengapit lengannya.

**

Chou Tzuyu tak tertarik lagi untuk berlama-lama di kedai kopi itu. Suasannya menjadi aneh dan tak senyaman sebelumnya setelah kedatangan tamu tak diundang.

Okey, persingkat ini. Seorang pemuda bernama Jeon Jungkook tiba-tiba saja muncul di depan Tzuyu dengan senyum lebar dan muka tak berdosanya itu. Jungkook duduk di depan Tzuyu dan menyapa gadis itu. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

“Sepertinya aku harus pergi, peraturan sekolahku tidak memperbolehkan siswa di luar sampai jam enam sore.” Katanya. “Dan ini sudah lebih dari jam enam, mianhae.” Tzuyu beranjak dari duduknya setelah berpamitan, namun gadis itu tak menduga apa yang dilakukan pemuda itu sekarang. Jungkook menahannya dengan menghalangi jalan Tzuyu.

“Biar aku antar.”

“Tidak perlu.” Tzuyu menghela nafas dan mencoba menolak dengan halus, meskipun gadis itu tahu Jungkook tidak akan semudah itu menerima penolakan.

“Aku tetap ingin mengantarmu, Chou.”

See? Pemuda itu bahkan tidak menunjukkan kekecewaan, ia malah semakin menghadang jalan Tzuyu. Menatap mata gadis itu dengan tatapan memohon.

“Sudah lama kita tidak bertemu, bukan?” pertanyaan Jungkook memang benar, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tapi itu karena Jungkook sendiri yang membuat jarak diantara mereka terlebih dulu. “Kau tidak merindukanku, Chou?”

Alisnya terangkat, Tzuyu memikirkan cara untuk menghindari Jeon Jungkook untuk saat ini. Matanya mencari sesuatu untuk menolongnya.

‘Joe? Itu Joe!’

Ia menemukannya, cara untuk pergi dari hadapan Jungkook. Pemuda yang sedang berdiri di luar kedai itu bisa membantunya.

Mianhae, Jungkook-ssi. Tapi…” Tzuyu sempat ragu, namun hanya ada satu cara untuk saat ini. “.. tapi, kekasihku sudah menunggu. Aku harus segera pergi.”

Jungkook tergelak. Ia menatap curiga pada Tzuyu. “Kau, memiliki kekasih?”

Tzuyu mengangguk mantap. “Sebenarnya, aku disini sedang menunggu kekasihku. Kau lihat, ia disana. Sedang memandang kita, aku tidak mau dia salah sangka.”

Pertahanan Jungkook mengendur, kedua tangan yang digunakannya untuk menghadang Tzuyu kini turun ke samping pahanya. Melihat itu, Tzuyu langsung berlari kecil meninggalkan Jungkook. Pemuda itu sempat mengikuti langkah Tzuyu keluar dari kedai.

“Oppa, mian. Pasti kau sudah menunggu lama, euhm?”

Tzuyu ingin mengutuk aksi bodohnya ini. Apalagi melihat Joe yang terlihat kaget setelah ia mengapit lengan pemuda itu. “Bantu aku sebentar, jebal~” Gadis itu memohon, beruntung Joe tidak banyak bertanya. Pemuda itu nampak mengangguk dengan ragu.

**

Pemandangan ramai dari Seoul Bamdokkaebi Night Market menemani perjalanan mereka, Joe dan Tzuyu. Sama-sama tak ingin terburu-buru kembali ke asrama, akhirnya Tzuyu -dengan asal memilih- mengajak Joe untuk mengunjungi pasar yang hanya ada pada malam hari tersebut. Perjalanan mereka diawali di kawasan Dongdaemun Design Plaza, disana mereka melihat berbagai macam stan yang menjual makanan ringan, aksesoris, dan beberapa musisi jalanan.

seoulbamdokkaebinightmarket

Keduanya berjalan dalam diam.

Tzuyu sibuk memikirkan alasan apa yang tepat untuk dijelaskan pada pemuda di sampingnya. Sementara Joe, pemuda itu sibuk mengagumi apa yang dilihatnya. Sejak kecil pemuda itu tidak tinggal di tanah kelahirannya, banyak hal yang dilewatkannya selama ini dari Korea.

Joe ingin membuka suara, namun ia lebih menghargai jika gadis yang sedang berjalan bersamanya itu memulainya terlebih dulu. Bagaimana pun juga ia bisa berada disini sekarang karena gadis itu, bukan?

Jeosonghaeyo.” Gumam si gadis, dan Joe mendengarnya dengan jelas.

Joe meliriknya. Mereka masih tetap berjalan. “Jadi sekarang, kau akan menjelaskannya apa yang terjadi, Nona Tiramisu?”

Tzuyu tergelak, pemuda itu masih memanggilnya dengan sebutan ‘Nona Tiramisu’. Entah sejak kapan Tzuyu mulai tersenyum saat mendengar panggilan itu. Bukannya menjelaskan sesuatu pada Joe, Tzuyu malah mempercepat langkahnya.

“Aku akan memberitahumu setelah kita membeli Tteokbokki di kedai itu.”

**

“Terimakasih sudah menyelamatkanku. Aku akan mentraktirmu.”

“Menyelamatkanmu?” Kening Joe mengerut, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh gadis di depannya. “Aku rasa kau tidak sedang dalam bahaya.” ujarnya.

Pemuda dengan rahang tegas dan mata tajam itu, bisa juga menunjukkan ekspresi bingung seperti sekarang, dan membuat Tzuyu merasa geli.

“Aku sedang dikejar orang jahat, jika aku tidak menemukanmu..” ucapannya menggantung sebentar, Tzuyu mengendikkan bahunya. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, mungkin aku tidak akan bisa kembali ke ECUA.”

Pemuda itu melirik jam tangannya. “Tapi sekarang kau membuat kita tidak bisa kembali ke ECUA, Nona.” Ucap Joe yang langsung diangguki oleh Tzuyu. Beberapa detik kemudian Tzuyu terkekeh, menyadari kebodohannya. Jam malam ECUA sudah berlalu, seharusnya mereka sudah berada di asrama satu jam lalu.

Mereka harus menginap dimana?

Seporsi Tteokbokki, Kimbab, dan Sundae sudah berada di atas meja.

Joe menenggak minumnya sebelum memasukan sepotong Sundae kedalam mulutnya. “Aku rasa kau harus menjelaskan sesuatu padaku, ingatanku masih baik.” Seru Joe di tengah-tengah santapan malam mereka.

Tzuyu menelan Tteokbokkinya. “Sudah ku bilang, aku sedang dikejar orang jahat.” Katanya.

Joe mendelik. “Aku tidak heran jika kau dikejar orang jahat.” ucapan pemuda itu membuat Tzuyu menatapnya heran. “Yang kau maksud orang jahat itu adalah mantan kekasihmu, bukan?” Jedanya, “Kesimpulanku, pemuda itu mengejarmu karena dia menyesal telah memutuskan gadis cantik sepeti dirimu.”

Tzuyu tersenyum kecil. Bukan karena kesimpulan Joe itu benar. Gadis itu tersipu oleh perkataan Joe yang menganggapnya ‘gadis cantik’. Hey, perempuan mana yang tidak suka dan tidak tersipu saat seorang pria menyebutnya cantik?

“Kau tersenyum, sepertinya tebakanku benar.” Joe melirik Tzuyu dengan senyum miringnya.

Tzuyu terkekeh. “Kau ini, you want to know sekali.”

“Aku hanya ingin tahu, kenapa laki-laki seperti orang tadi memutuskan gadis cantik sepertimu.”

“Sepertinya kau seorang playboy, Mr. Curious?

Ohh, aku hargai predikat itu.”

Keduanya terkekeh bersama.

Entah sejak kapan bagi Tzuyu, menghabiskan waktu dengan berbincang ringan seperti sekarang bersama Joe adalah sesuatu yang membuatnya nyaman. Pemuda itu tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Sampai ia tak sadar sudah berapa lama waktu yang dihabiskan mereka berdua.

*

*

To be continue.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Fanfiction, SHINee, UPDATE

(ɔˇ³ˇ)ɔ Your Comment Like Oxygen♡

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s